Langsung ke konten utama

Postingan

AKTIVISME

Perlu kiranya tulisan ini diawali dengan pagar — hedges dalam istilah linguis kenamaan: Georfe Leech. Pertama, tulisan ini berjarak dengan penulis karena semi ilmiah. Kedua, tulisan ini sebagai “pembayaran hutang” atas tulisan sebelumnya yang seolah mendegradasi makna “aktivis”. Ketiga, data dan referensi dalam tulisan ini didapat dengan metode introspektif atas segala hal yang penulis temui. Terakhir , semoga cerita kebahagiaan ini bisa membawa kebaikan bagi semua.   Tulisan ini tiba-tiba saja mengalir ketika saya mengingat ucapan Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti pada sebuah talkshow di sebuah stasiun TV beberapa bulan lalu. Topik diskusi saat itu adalah soal kabinet ideal yang mestinya Pak Jokowi susun. Prof. Ikrar berkali-kali menyebut bahwa kabinet mesti merekrut anak muda dan mantan aktivis. Anak muda yang dimaksud adalah berusia di bawah 40 tahun. Aktivis yang ia maksud dapat merupakan aktivis kampus dan aktivis lembaga non-profit lainnya. Terlepas dari jabatan ap...

IDEOLOGI

“… pagi makan sore tiada, takan luntur cintaku pada-Mu. Baju satu kering di badan, takan pudar sayangku pada-Mu. ” (Gubug Derita by Yusnia)   “Ideologi itu seperti rambut. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak memilikinya. Ada yang memamerkannya sebagai komoditas. Ada pula yang menyembunyikannya dengan hijab, topi, atau kopiah dengan alasan tertentu,” kata Galuh Febri Putra. 

Antara Idealisme, Ekstrimisme, dan Penyakit Hati

“Idealis(me)… orang-orang yang hidup di atas awan.” (Louis Kattsoff) Tulisan ini dibuat karena saya terus terngiang dengan pertanyaan seorang teman seangkatan yang hingga kini belum lulus. Kami mahasiswa angkatan 2007. Jadi, kira-kira teman saya ini sudah kuliah tujuh tahun. Dia mempertanyakan hal yang menurutnya berubah dari rekan-rekannya yang pernah aktif di organisasi kampus. “Manusia memang berubah,” begitu sindirnya. Menurutnya, rekan-rekannya yang dulu mengaku sebagai aktifis mahasiswa — yang dicitrakan sebagai mahasiswa idealis yang suka memikirkan nasib bangsa — kini telah kehilangan idealismenya. 

Revolusi Mental melalui Keterbukaan Informasi Publik

Jargon “revolusi mental” sempat membahana pada masa kampanye Pilpres 2014 silam. Terlepas dari keberpihakan politis pada siapapun, jargon itu selayaknya mesti diapresiasi. Revolusi mental merupakan rumusan aktual dalam kontkes Indonesia kekinian. Persoalan bangsa yang tak kunjung menemukan ujung pangkal adalah alasan kuat perlunya sebuah revolusi mental.  Menghitung permasalahan di negeri ini bisa sesulit menghitung bintang di langit. Persoalan-persoalan pelik itu saling berkelindan membelit cita-cita kemerdekaan bangsa. Sejumlah tawaran solusi yang diuji coba belum satupun yang menampakan hasil signifikan. Orde reformasi yang dipuja sebagai momentum perubahan pun mandul. Hingga hari ini, bangsa ini terus saja terjebak dalam lingkaran keterpurukan. Adalah memilukan jika melihat begitu pesatnya perkembangan negara-negara lain yang usia kemerdekaannya jauh lebih muda. Di kawasan Asia Tenggara semisal, Indonesia — dalam aspek eknomi, politik, IPTEK, dan bahkan kebudayaan —...

Aku Perlu Tahu Kamu

Sekali lagi saya mesti curhat colongan alias curcol . Ya , sudah berkali-kali memang. Sampai akhirnya saya terinspirasi untuk membuat genre baru: Esai Curcol — nggak mau kalah sama Denny JA. Tapi, saya yakin curhat saya kali ini agak penting. ­ Serius… Ceritanya terjadi saat saya masih kuliah S1. Jujur saja kalau saya ini mahasiswa biang kerok. Di mana-mana sukanya bikin rame. Berkali-kali saya mesti bersinggungan dengan banyak pihak yang merasa terusik dengan ulah saya. Untungnya, saya rock n’ roll abis saat itu. Jadi Alhamdulillah semua bisa saya lewati dengan woles .

Gebrakan Segar dari Pesantren Modern

Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta terhitung masih sangat muda. Namun, gebrakan pesantren modern ini cukup membahana. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, prestasi MBS melejit menggeser sekolah milik Muhammadiyah lainnya. MBS diperkirakan akan menjadi model pendidikan milik Muhammadiyah di masa depan.   Warna biru mendominasi ruangan kantor MBS Yogyakarta. Gedungnya tampak mencolok di tengah persawahan Kecamatan Prambabanan yang mengering. Kemegahannya seperti mengulang kejayaan kompleks Candi Ratu Boko — yang berada di atas bukit persis di samping MBS. Sosok nan ramah menyapa di pintu ruang tamu. Dia adalah Ustadz Nasir: penggagas sekaligus direktur MBS. Di sampingnya, berjejer rapih puluhan piala. Sebuah bukti bahwa pesantren yang baru berdiri pada tahun 2008 ini sudah banyak menuai prestasi.

Evolusi Dakwah Ranting Suronatan

Di usia yang lebih dari satu abad ini Muhammadiyah semakin matang. Organisasi yang dibidani oleh KH. Ahmad Dahlan ini mampu menjadi tetua yang bijak. Riuh-riak persaiangan ideologis dan politis Ormas Islam tidak membuat Muhammadiyah hanyut di dalamnya. Muhammadiyah tetap berusaha istiqomah untuk memnjadi lilin bagi umat. Keteguhan Muhammadiyah salah satunya bisa dijumpai pada Ranting Suronatan. Dari salah satu ranting tertua ini, dinamikan Muhammadiyah bisa diterawang. Dinamika ranting Suronatan dapat menunjukan bagaimana Muhammadiyah berdialektika dengan sejarah dan zaman.