Langsung ke konten utama

Kerjasama Lembaga Pendidikan dan Pemerintah (dimuat di Kompas 19 Nov 10)


Merapi saat meletus beberapa minggu lalu
Jumlah pengungsi bencana Merapi di Yogyakarta dan Jateng mencapai 396.407 jiwa sebelum adanya penurunan radius jarak bahaya merapi (Kompas, 11 November). Jumlah tersebut tersebar di 635 lokasi, termasuk di beberapa lembaga pendidikan.
Lembaga pendidikan dinilai lebih layak bagi tempat pengungsian daripada barak dan tenda. Selain itu, siswa dan mahasiswa juga berperan aktif sebagai relawan. Peran lembaga pendidikan cukup besar dalam tanggap darurat Merapi.




Meski radius bahaya Merapi telah diturunkan 15 hingga 10 km dari puncak, jumlah pengungsi masih cukup banyak. Pungungsi dari wilayah yang masih tergolong berbahaya masih harus bertahan hingga waktu yang belum pasti. Apalagi sebagian pengungsi yang tempat tinggalnya telah hancur karena erupsi Merapi, mereka masih bingung untuk menata kehindupannya nanti.
Di sisi lain, lembaga pendidikan dan tempat pengungsian lainnya adalah tempat yang vital. Proses pendidikan bagaimanapun membutuhkan ruang belajar yang nyaman. Ini tak terpenuhi jika tempat belajar masih dijadikan sebagai tempat mengungsi. Pemerintah harus berfikir kearas untuk memecahakan masalah pengungsian ini. Harus ada win-win solution baik bagi para pengungsi maupun proses pembelajaran. Keduanya harus sama-sama mendapatkan tempat yang nyaman.
Melihat dari suksesnya proses tanggap darurat yang salah satunya dimotori oleh lembaga pendidikan, lembaga pendidikan juga selayaknya diajak agar sama-sama berfikir tentang proses rehabilitasi. Akademisi kampus diharapakan memiliki banyak trobosan agar para pengungsi bisa hidup layak seperti sediakala. Pemerintah memilki otoritas dan dana untuk menjadikan ide trobosan tersebut dapat terealisasi.
Untuk tahap awal, masalah yang musti dipecahkan adalah memindahkan tempat pengungsian dari lembaga pendidikan ke tempat yang sesuai. Tempat tersebut merupakan fasilitas negara yang tidak terlalu mempengaruhi kepentingan umum. Itu bisa semisal GOR, Wisma, Aula, atau sejenisnya. Tempat semacam itu relatif bisa terkontrol dan dimaksimalkan proses palayanan pengungsinya. Pemerintah, kembali menjadi menjadi core leader terhadap lembaga relawan dan bantuan yang sudah ada.
Tahapan kedua adalah merancang konsep rehabilitasi fisik maupun non-fisik. Untuk rehabilitasi fisik, beberapa hal mesti diperhatiakan. Mengingat objek rehabilitasi adalah wilayah rawan bencana, konsep bangunan hingga tata ruang pemukiman harus memiliki daya tahan bencana. Jarak pemukiman hingga hal-hal yang lebih mendetail harus benar-benar diteliti. Penelitian ini akan maksimal jika dilakukan oleh kampus. Kampus harus diberikan otoritas untuk mencari dan merancang konsep rehabilitasi fisik yang baik. Setelah itu pemerintah menjadi eksekutor rehabilitasi fisik tersebut.
Banyak wacana berkembang jika proses rehabilitasi fisik bisa dilakukan dengan relokasi. Mengingat luas dan parahnya wilayah yang hancur karen erupsi Merapi, relokasi bisa menjadi alternatif yang baik.  Namun, relokasi tak bisa begitu saja dilakukan tanpa melihat berbagai aspek yang terkait dengannnya. Aspek sosial, kultural, serta ekonomi musti sangat diperhatiakan. Untuk memhami aspek tersebut diperlukan kajian multidisipliner. Kampus dengan penelitiannyalah yang akan bisa memahami semua aspek tersebut. Hasil dari kajian tersebut harus ditindaklanjuti oleh pemerintah.
Memahami bagaimana kondisi sosial dan psikologi para pengungsi adalah termasuk rehabilitasi non-fisik. Proses ini sebenarnya telah dilakukan sejak proses tanggap darurat. Banyak relawan, termasuk dari lembaga pendidikan yang melakukan banyak usaha agar kondisi mental para pengungsi tetap terjaga. Dalam proses rehabilitasi pasca bencana, materi rehabilitasi harus lebih terstruktur dan terukur. Rancangan rehabilitasi mental dan kultural tersebut sebaiknya melibatkan kampus. Pemerintah kemudian mengadakan kordinasi dengan lembaga terkait untuk menjalankan rancangan rehabilitasi tersebut.
Lembaga pendidikan seperti kampus terbukti mampu berperan secara maksimal dalam proses tanggap darurat. Dengan lebih mengikutsertakan kampus dalam proses rehabilitasi pasca bencana, rehabilitasi akan  berjalan lebih cepat dan maksimal. Semakin cepat proses rehabilitasi fisik maupun non-fisik berjalan, nasib para pengungsi akan lebih cepat pula tertangani. Tempat-tempat yang selama ini menjadi posko pengungsian akan bisa digunakan seperti sediakala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cohesion and Coherence in Discourse Analysis: A Journalistic Research

People communicate each other in their live. They share feeling, and thought from one and others. Crystal (2005: 3) states that communication is much boarder concept, involving transmission and reception of any kind information between any kinds of life. The definition concludes that every process of sending and accepting information is communication. In communication, people also need channels of information. The channels are the five human senses that are sound, sight, touch, smell, and sight. From the five senses, the use of sound – the auditory-vocal mode – is the fundamental human communication channel. In practice, the example of the mode is speech.   The use of sight – the visual mode – is also familiar in daily communication. The visual mode which uses facial expression or gesture describes as nonverbal language. People usually use words and sentence in communication and it is called verbal language. Language is a system of arbitrary vocal symbols used for human communica...

Pragmatic Description of Javanese Verbal Abuse (Pisuhan Bahasa Jawa)

Locution of Javanese Verbal Abuse Locution of Javanese verbal abuse means the actual meaning of the verbal abuse. Austin in Cummings (2007:9) says that locution act is the meaning of utterance in its traditional meaning. On the other words, the words used in locution act have same meaning with the words lexical meaning. Javanese verbal abuse is known as a language which has many varieties from dialect until social language variety. Javanese language spread into large place almost the entire java island. The conditions leads Javanese language has several specifies among the variety. It is also influenced the development of verbal abuse in Javanese. Every Javanese language varieties have their own verbal abuse. One of the most special regions developed as the center of Javanese language is Yogyakarta. Feudalism and hierarchy culture are still to be social characteristics of Yogyakarta society. The feudalism and hierarchy influenced the development of verbal abuse. The verbal abuse mostly...

MTA dan Perebutan Pengaruh Ormas Islam

Perkembangan Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) cukup pesat. Hampir di setiap wilayah telah berdiri cabang MTA. Tak ayal kehadiran MTA juga menimbulkan gesekan dengan Organisasi Islam yang terlebih dahulu ada. Sarno dengan penuh hikmat mendengarkan ceramah sang ustad.z Begitupun dengan ratusan jamaah lainnya, mereka cukup khusuk mencermati nasihat-nasihat dalam pengajian itu. Meski Kudus – tempat diselenggarakannya pengajian – cukup jauh dari tempat Sarno berasal, seolah tak membuatnya letih atau kehilangan konsentrasi. Jarak Wonogiri – Kudus nan jauh terbayar sudah dengan ilmu yang ia peroleh.