Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Perlu Tahu Kamu

Sekali lagi saya mesti curhat colongan alias curcol . Ya , sudah berkali-kali memang. Sampai akhirnya saya terinspirasi untuk membuat genre baru: Esai Curcol — nggak mau kalah sama Denny JA. Tapi, saya yakin curhat saya kali ini agak penting. ­ Serius… Ceritanya terjadi saat saya masih kuliah S1. Jujur saja kalau saya ini mahasiswa biang kerok. Di mana-mana sukanya bikin rame. Berkali-kali saya mesti bersinggungan dengan banyak pihak yang merasa terusik dengan ulah saya. Untungnya, saya rock n’ roll abis saat itu. Jadi Alhamdulillah semua bisa saya lewati dengan woles .

Gebrakan Segar dari Pesantren Modern

Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta terhitung masih sangat muda. Namun, gebrakan pesantren modern ini cukup membahana. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, prestasi MBS melejit menggeser sekolah milik Muhammadiyah lainnya. MBS diperkirakan akan menjadi model pendidikan milik Muhammadiyah di masa depan.   Warna biru mendominasi ruangan kantor MBS Yogyakarta. Gedungnya tampak mencolok di tengah persawahan Kecamatan Prambabanan yang mengering. Kemegahannya seperti mengulang kejayaan kompleks Candi Ratu Boko — yang berada di atas bukit persis di samping MBS. Sosok nan ramah menyapa di pintu ruang tamu. Dia adalah Ustadz Nasir: penggagas sekaligus direktur MBS. Di sampingnya, berjejer rapih puluhan piala. Sebuah bukti bahwa pesantren yang baru berdiri pada tahun 2008 ini sudah banyak menuai prestasi.

Evolusi Dakwah Ranting Suronatan

Di usia yang lebih dari satu abad ini Muhammadiyah semakin matang. Organisasi yang dibidani oleh KH. Ahmad Dahlan ini mampu menjadi tetua yang bijak. Riuh-riak persaiangan ideologis dan politis Ormas Islam tidak membuat Muhammadiyah hanyut di dalamnya. Muhammadiyah tetap berusaha istiqomah untuk memnjadi lilin bagi umat. Keteguhan Muhammadiyah salah satunya bisa dijumpai pada Ranting Suronatan. Dari salah satu ranting tertua ini, dinamikan Muhammadiyah bisa diterawang. Dinamika ranting Suronatan dapat menunjukan bagaimana Muhammadiyah berdialektika dengan sejarah dan zaman.

Resensi: Sastra Profetik dan Pengimajinasian Nilai Pencerahan

“Karena bangsa Indonesia modern kita sedang dalam krisis, krisis peradaban,” tulis Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A dalam maklumatnya. Krisis itu nampak dari fenomena sosial bangsa yang kacau. Norma dan nilai tak lagi jadi pijakan hidup. Bisa jadi karena norma dan nilai yang ada memang tak pantas jadi pijakan. Menjadi sulit menentukan bagaimana “menjadi” dalam masa-masa ini. Terlalu banyak pengkaburan yang menghalangi pandangan. Pun realitas tak bisa lagi mencerahkan.

Filsafat Ilmu Pendidikan dalam Al-Qur’an

Siapapun barangkali mengamini jika pendidikan di negeri ini masih terpuruk. Belum ada tanda-tanda bahwa persoalan seputar dunia pendidikan akan mengalami pemulihan. Perbaikan ihwal pendidikan hanya seputar tata rias dan pakaian semata. Sementara itu, jiwa dari pendidikan sendiri tak pernah dicoba tuk disentuh.

Cinta?

“ Cinta adalah sebuah sikap atau pendirian, sebuah orientasi karakter yang menentukan relasi seseorang dengan dunia ini secara keseluruhan, dan tidak mengarah hanya kepada objek cinta. Cinta yang mendasar bukan sekedar sebuah perasaan yang kuat, tetapi sebuah keputusan, pertimbangan, dan juga janji. Jika cinta hanya sebuah perasaan maka tidak ada basis untuk berjanji saling mencintai selamanya. Persaan bisa datang dan pergi dengan gampang. Kita tidak bisa memastikan bahwa ia akan tetap di sana, selamanya, jika tindakan kita tidak melibatkan sebuah pertimbangan keputusan .” (Erich Fromm, 1959)

Pemurtadan Itu Nyata (Lapsus FUI Sragen Jawa Tengah)

Pemurtadan selama ini dianggap “hantu”: ada namun tidak ada. Itu terjadi karena payung hukum persoalan pemurtadan belumlah jelas. Umat Islam Sragen cukup banyak merekam usaha penggadaian iman tersebut. Pemberdayan ekonomi dan pendidikan adalah benteng terluar melawan pemurtadan. Sebuah laporan mengejutkan diterima Muhari hari itu. Seorang pengunjung dealer motor miliknya bercerita soal kejadian di kampungnya. Pelanggannya itu bercerita mengenai pembelian tanah yang cukup luas oleh orang dari Semarang di dekat rumahnya. Tiba-tiba saja tanah itu akan dibangun sebuah gereja megah. Warga kampung tersebut bingung. Salah seorang warga berinisatif menghubungi pemerintah desa dan Polres setempat. KTP warga lantas dikumpulkan. Mengherankan, dari semua warga ternyata tidak ada yang non islam. Terbukti sudah jika pendirian tampat ibadah tersebut adalah ilegal. Setelah melakukan dialog yang panjang, pembangunan gereja itu dihentikan.