Langsung ke konten utama

Struktur Berita Interpretatif


tulisan

Menurut Edward Jay Friedlander, interpretasi melibatkan jawaban terhadap pertanyaan: Apa ini artinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seorang wartawan harus mengambil informasi yang tersedia dan memasukan informasi ke dalam otak seakan-akan sebuah komputer, lalu berfikirlah tentang hal itu dengan cara yang teratur. Programkan otak untuk menganalisa isu-isu dan kejadian-kejadian. Program-program yang tersedia meliputi metode-metode tertentu untuk berfikir secara logis. Proses berfikir logis tersebut kita jabarkan dalam tulisan berita interpretatif yang kita susun. Beberapa teknik tersebut adalah
Sebab dan akibat
Jika A penyebabnya dan B akibatnya, A dan B mestinya berkorelasi secara langsung maupun sebaliknya. Jika A naik, maka B harus selalu naik atau turun. A harus mendahului B dalam waktu. Meski kedua kriteria ini terpenuhi. C bisa menjadi penyebab A maupun B. Dalam penulisan berita secara sebab akibat kita mesti mengurutkan informasi yang ada dari sebab menuju akibat atau sebaliknya atas sebuah peristiwa.

Penalaran secara deduktif
Dalam penalaran deduktif, yaitu langkah berfikir dari premis umum ke hal yang khusus. Semisal, Johan telah di diagnosa sebagai pengidap kanker paru-paru. Pada hari pembedahnya, sinar x-ray menunjukan bahwa daging-jadi dalam  paru-parunya telah meyusut. Pembedahan pun dibatalkan. Para dokter mengatakan kepadanya bahwa jika suatu daging-jadi menyusut, ia selalu tidak ganas. Meskipun para dokter tidak secara mutlak yakin jika Johan tidak mengidap kanker, para dokter tersebut telah melangkah dari premis umum ke premis khusus. Kasus yang dialami Johan berkesimpulan bahwa mungkin sekali ia tidak mengidap kanker. Saat menulis berita dengan penalaran ini kita mesti memahami informasi yang ada berdasarkan premis umum hingga hal khususnya. Setelah itu kita bisa memulai menulis dengan menyebutkan hal yang umum ke yang khusus.
Penalaran secara induktif
Jenis penalaran ini melangkah dari satu kasus khusus ke konklusi umum. Semisal, meskipun Jodi menolak dikatakan berada didekat kejadian saat pembunuhan Mariana, polisi menemukan bahwa di dalam kuku korban terdapat sehelai rambut dan sepotong benang dari sweater Jodi. Polisi lantas melangkah dari bukti-bukti khusus kekonklusi umum yang memperkirakan Jodilah pembunuh Mariana. Dalam menulis berita jenis ini kita bisa memulai dengan menghimpun informasi-informasi pendukung dalam sebuah peristiwa. Setelah beberapa informasi tersusun kita bisa menuliskan inti permasalahan pada sebuah peristiwa. Jika terdapat kesimpulan, kesimpulan tersebut mesti hadir dari data lapangan atau statemen narasumber.
Analogi
Ini adalah proses berfikir logis yang bersifat literer dan retoris untuk menyederhanakan maslah-masalah yang kompleks. Jika dua masalah memiliki sejumlah kesamaan dalam beberapa segi, kedua masalah tersebut juga kemungkinan secara umum adalah sama dalam banyak segi lainnya. Semisal, terdapat perselisihan antara sebuah serikat buruh dengan sebuah perusahaan. Masalah tersebut dapat diuraikan menggunakan urutan kejadian yang dimulai dengan A (pengajuan tuntutan), kemudian B (penolakan), C (perundingan yang tak membuahkan hasil), D (ancaman mogok), dan E (penyelesaian pada tenggang waktu ancaman mogok).
Maka jika di perusahaan lain terdapat serikat buruh yang  mengajukan tuntutan namun ditolak oleh pihak perusahaan, wartawan bisa melihat kedua situasi tersebut sama (analog). Wartawan tersebut bisa menyimpulkan urutan kejadian peristiwa yang kedua kurang lebih akan sama. Dalam menulis berita secara analog, seandainya informasi yang ada memungkinkan untuk ditulis secara analogi kita bisa menulisakan kejadian yang memiliki kaitan dengan peristiwa yang akan kita tulis. Setelah itu kita tarik benang merah dengan informasi dari peristiwa yang kita beritakan.
 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cohesion and Coherence in Discourse Analysis: A Journalistic Research

People communicate each other in their live. They share feeling, and thought from one and others. Crystal (2005: 3) states that communication is much boarder concept, involving transmission and reception of any kind information between any kinds of life. The definition concludes that every process of sending and accepting information is communication. In communication, people also need channels of information. The channels are the five human senses that are sound, sight, touch, smell, and sight. From the five senses, the use of sound – the auditory-vocal mode – is the fundamental human communication channel. In practice, the example of the mode is speech.   The use of sight – the visual mode – is also familiar in daily communication. The visual mode which uses facial expression or gesture describes as nonverbal language. People usually use words and sentence in communication and it is called verbal language. Language is a system of arbitrary vocal symbols used for human communica...

Pragmatic Description of Javanese Verbal Abuse (Pisuhan Bahasa Jawa)

Locution of Javanese Verbal Abuse Locution of Javanese verbal abuse means the actual meaning of the verbal abuse. Austin in Cummings (2007:9) says that locution act is the meaning of utterance in its traditional meaning. On the other words, the words used in locution act have same meaning with the words lexical meaning. Javanese verbal abuse is known as a language which has many varieties from dialect until social language variety. Javanese language spread into large place almost the entire java island. The conditions leads Javanese language has several specifies among the variety. It is also influenced the development of verbal abuse in Javanese. Every Javanese language varieties have their own verbal abuse. One of the most special regions developed as the center of Javanese language is Yogyakarta. Feudalism and hierarchy culture are still to be social characteristics of Yogyakarta society. The feudalism and hierarchy influenced the development of verbal abuse. The verbal abuse mostly...

MTA dan Perebutan Pengaruh Ormas Islam

Perkembangan Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) cukup pesat. Hampir di setiap wilayah telah berdiri cabang MTA. Tak ayal kehadiran MTA juga menimbulkan gesekan dengan Organisasi Islam yang terlebih dahulu ada. Sarno dengan penuh hikmat mendengarkan ceramah sang ustad.z Begitupun dengan ratusan jamaah lainnya, mereka cukup khusuk mencermati nasihat-nasihat dalam pengajian itu. Meski Kudus – tempat diselenggarakannya pengajian – cukup jauh dari tempat Sarno berasal, seolah tak membuatnya letih atau kehilangan konsentrasi. Jarak Wonogiri – Kudus nan jauh terbayar sudah dengan ilmu yang ia peroleh.